
Tradisi ini dilakukan dengan cara berendam atau mandi di sumur-sumur atau sumber mata air. Padusan memiliki makna membersihkan jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan ibadah puasa, sehingga bersih secara lahir dan batin.
Namun untuk tahun ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak melakukan persiapan khusus dalam tradisi padusan.
Sekretaris Dinas Pariwisata Gunung Kidul, Hary Sukmono, mengatakan pada momen padusan 2018 ini pihaknya tidak menggelar acara apapun. Baik acara hiburan maupun pemasangan pipa padusan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Meski nantinya tidak ada acara, kami tetap optimistis kawasan pantai Gunung Kidul akan tetap ramai oleh wisatawan pada momen padusan kali ini," ujar Hary, seperti yang dikutip dari Antara, Rabu (16/5).
Sementara itu Sekretaris Tim Search and Recue (SAR) Wilayah II Pantai Baron, Surisdiyanto, mengatakan pihaknya menerjunkan hampir seluruh pasukannya untuk melakukan pantauan di kawasan pantai maupun perairan.
Menurut Surisdiyanto, tingkat kerawanan di masa padusan tahun ini memang lebih tinggi. Hal ini lantaran masyarakat sebagian besar terjun ke pantai untuk melakukan momen padusan.
Ia menuturkan ada sekitar 57 personel yang disebar di sejumlah titik kawasan pantai yang ramai oleh pengunjung.
"Yang biasanya cuma duduk saat momen padusan ini juga akhirnya memilih untuk terjun ke laut," katanya.
SAR Baron sendiri, ia menambahkan, memprioritaskan wilayah-wilayah pantai yang merupakan daerah-daerah rip current, seperti Pantai Drini.
Ia mengimbau kepada seluruh warga masyarakat maupun pengunjung untuk waspada mengingat karakter ombak di Pantai Selatan sulit untuk diprediksi. Saat ini ombak masih terhitung landai, namun situasi ini bukan tidak mungkin tiba-tiba berubah. (agr)
Baca Kelanjutan Warga Gunungkidul Terjun ke Pantai untuk Padusan : https://ift.tt/2rM8wXfBagikan Berita Ini
0 Response to "Warga Gunungkidul Terjun ke Pantai untuk Padusan"
Post a Comment