
Pukul tujuh malam kami tiba di Stasiun Jodphur Junction. Para penumpang bergegas mengangkat barang bawaan dan berebut turun. Beberapa buruh porter menyelinap masuk ke dalam gerbong kereta menawarkan jasa angkut.
Saya tak tergesa-gesa turun dan menunggu kereta berhenti sempurna sembari memandangi riuhnya stasiun dari balik jendela kereta yang buram.
Udara dingin kembali menyapa kulit ketika saya melangkahkan kaki keluar gerbong. Sambil berjalan keluar, saya berdialog dengan diri sendiri menebak-nebak suhu malam itu
“20 derajat celcius? Ah, enggak mungkin. Ini sih 15 derajat.”
Serpihan dialog ini cukup untuk membunuh kekakuan dan kesendirian bagi saya seorang solo traveller.
Suara klakson mobil dan motor dari segala penjuru membuyarkan ‘percakapan’ itu. Memang, kalau tak chaos bukanlah India. Mulai dari lalu-lalang warga yang menyeberang jalan sesuka hati, hingga anjing-anjing liar yang tak mau kalah menguasai jalanan menjadi suguhan perkenalan dari kota Jodphur.
Berjarak 604 kilometer dari New Delhi dan berbatasan dengan Pakistan, Jodphur adalah kota terbesar kedua di Negara bagian Rajasthan. Temperatur kota bisa menembus 45 derajat celcius saat musim panas karena berlokasi di Gurun Thar. Sehingga pantas lah kota ini dijuluki sebagai “The Sun City”.
Satu lagi yang identik dengan kota ini adalah cat biru pada tembok-tembok bangunan. Dari kejauhan, Jodphur selayaknya hamparan karpet biru yang memeluk erat bukit-bukit. Seolah perlawanan pada kegersangan lautan emas Gurun Thar.
Kedatangan saya ke kota ini tidak lepas dari inspirasi yang didapatkan dari fotografer dunia asal Amerika Serikat, Steve McCurry. Ia bukan hanya mendapatkan foto-foto ‘indah’ dari kota biru, tapi juga menangkap kehangatan dan keramahan warga lokal. McCurry juga berhasil mengabadikan jiwa Jodphur yang berbeda dari kota lainnya di India, meski dinamika dan keriuhannya nyaris serupa.
Baca Kelanjutan Terbius Rayu Kota Biru : https://ift.tt/2KYEc7HBagikan Berita Ini
0 Response to "Terbius Rayu Kota Biru"
Post a Comment