Search

Orang Tua Gagal 'Move On,' Remaja Berisiko 'Copycat' Idola

Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki idola di kala ramaja adalah kelaziman. Sayangnya, cara mendidik remaja yang diterapkan orang tua banyak yang tidak sesuai zaman. Jika dipaksakan, ini akan berdampak buruk pada psikologi remaja.

Di mata remaja, kata Psikolog Roslina Verauli, idola berfungsi sebagai acuan untuk menemukan jati dirinya.

"Remaja boleh idolakan siapa pun, karena sebagai manusia remaja juga butuh untuk jadi bagian dari society dan budaya yang populer saat ini," kata Roslina Verauli kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/12).

Hanya saja, dalam kondisi tertentu, sikap mengidolakan seseorang seringkali berlebihan dan berubah menjadi fanatik. Sikap fanatik yang terlalu berlebihan ini tak ayal bisa menjurus ke arah meniru semua hal yang dilakukan sang idola, termasuk kasus bunuh diri.

"Fenomena ini disebut sebagai copycat suicide."

Tak dimungkiri, fenomena percobaan copycat suicide ini pernah dilakukan oleh fan-fan dari banyak idola seperti David Bowie sampai idola Korea yang baru saja meninggal, personel SHINee, Kim Jonghyun. 

Psikolog yang disapa Vera ini mengungkapkan bahwa, untuk menghindari berbagai hal yang tak diinginkan, pengawasan orang tua terhadap perilaku remaja juga harus dilakukan.

Hanya saja yang jadi masalah sekarang ini, cara pengawasan orang tua terhadap kesukaan, termasuk idola, remaja ini dianggap kurang tepat oleh Vera.

"Yang dibutuhkan remaja adalah orang tua yang membebaskan remaja. Butuh orang tua yang peka dan paham profil tumbuh kembang anaknya," ucap dia.

Orang tua masa kini, kata Vera, seringkali gagal 'move on' dalam upaya mendidik dan mengawasi anaknya.

"Orang tua harus tahu dan punya cara mendidik yang berubah-ubah sesuai usia anak. Saat masih bayi harus dididik dengan cara A, usia balita dengan cara B, dan remaja dengan cara C."

"Jangan selalu menganggap remaja bisa diasuh dengan cara yang sama seperti saat dia masih anak-anak."

Di masa remaja, Vera menyarankan orang tua untuk memberi kebebasan pada anak, termasuk soal memiliki idola, hanya saja harus tetap diawasi.

"Jangan melarang remaja punya idola dan berbagai larangan lainnya. Remaja tak bisa dilarang,'Jangan datang konser idola ini,' 'Jangan nonton drama Korea.' Remaja bukan anak kecil yang bisa dilarang-larang," katanya mengingatkan.

"Orang tua harus mendukung anak, jadi support system yang bagus untuk anak, bukan melarang."

Namun, mendukung anak bukan berarti membenarkan perilaku buruk dan selalu berkata 'ya' pada semua hal.

Orang tua juga berhak menegur atau bajkan marah pada anak jika perilaku fan pada idola sudah terlalu fanatik dan kebablasan.


"Orang tua wajib ingatkan remaja ketika dia suka sama idolanya sudah berlebihan, dalam arti perilaku fan itu sudah mengganggu kemampuan anak untuk 'berfungsi.'," katanya.

"Maksud dari mengganggu fungsi ini adalah karena dia suka sekali dengan idola itu, dia jadi sulit belajar, sulit tidur, sulit bersosialisasi, dan lainnya."

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Into The Light (pendampingan.itl@gmail.com) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya (intimatajiwa@gmail.com).

(chs/arh)

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Orang Tua Gagal 'Move On,' Remaja Berisiko 'Copycat' Idola : http://ift.tt/2CR2o3O

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Orang Tua Gagal 'Move On,' Remaja Berisiko 'Copycat' Idola"

Post a Comment

Powered by Blogger.